Home > Catatan Lepas > Bangsa Yang Tidak Pernah Merasa Bersalah

Bangsa Yang Tidak Pernah Merasa Bersalah

Tidak seorang pun ingin dikatakan bodoh atau dituduh bersalah. Bahkan jika bukti-bukti tentang kesalahan telah dipaparkan di hadapannya, seseorang masih cenderung untuk mengelak dari kesalahan tersebut. Penyangkalan terhadap kesalahan atau kebodohan ini sepertinya sudah merupakan sifat dasar manusia. Bahkan di kalangan ilmuwan terdidik pun tak jarang kita menjumpai individu-individu yang selalu merasa benar sendiri dan enggan disalahkan meskipun berbagai argumentasi tentang kesalahan mereka telah dikemukakan. Seperti itulah pernyataan yang dikemukakan oleh W. Lawrence Newman. Manusia memang selalu ingin dihargai di hadapan orang lain. Stempel bodoh dan bersalah berimplikasi pada hancurnya status sosial dan harga diri individu.

Headlines yang membanjiri berita-berita di media masa dan elektronik saat ini menggambarkan hal tersebut. Perseteruan antara Satgas dan Gayus membuat bingung masyarakat, siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang pintar dan siapa yang bodoh, semuanya menjadi kabur. Indikator-indikator kesalahan, kebenaraan, kebodohan dan kepintaran sepertinya tak lagi berlaku di negeri ini. Orang pintar terlihat seperti orang bodoh atau melakukan tindakan yang bodoh, sementara orang-orang yang tidak semestinya berbicara berlagak seperti pakar. Sungguh sebuah negeri yang amat mengherankan. Sebagai masyarakat, secara tak sadar kita pun sebenarnya telah dibodohkan oleh para-para penjahat dan mafia hukum yang semuanya saling melempar kesalahan.

Perasaan Bersalah dan Kepemimpinan

Mengakui kesalahan ataupun kebodohan adalah sesuatu yang amat sulit. Apakah begitu terhinanya ketika seseorang dikatakan bersalah dan bodoh dalam pandangan masyarakat? Padahal sikap ingin selalu benar dan pintar itulah yang sebenarnya akan menghancurkan seseorang. Sikap selalu merasa benar dan tak mau menerima pendapat orang lain merupakan salah satu penyakit kejiwaan. Orang yang ego seperti ini sebenarnya tidak beda jauh dengan orang yang bego. Karena mereka merasa dirinya selalu benar dan tak pernah salah, secara tak sadar mereka pun telah melanggengkan kesalahan dan kebodohan mereka sendiri.

Perasaan bersalah itu sebenarnya merupakan sikap yang patut dihargai dan sesungguhnya jauh lebih baik daripada orang yang selalu ingin merasa benar. Harvard Business Review edisi Januari-Pebruari 2011 menurunkan artikel yang menarik berkaitan dengan perasaan bersalah tersebut. Di dalam artikelnya yang berjudul “Guilt-Ridden People Make Great Leaders” Francis J. Flynn menyatakan bahwa individu yang mudah merasa bersalah cenderung merupakan pekerja keras dan melakukan pekerjaanya lebih baik daripada individu yang sulit untuk merasa bersalah. Yang lebih menarik lagi dari penelitiannya tersebut, Flynn menyatakan bahwa orang yang mudah merasa bersalah lebih mampu untuk menjadi pemimpin.

Flynn yang merupakan direktur pusat pengembangan dan riset kepemimpinan di Stanford’s Graduate School of Busines ini melakukan pengujian psikologis terhadap 150 pekerja yang ada di bagian keuangan perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan antara hasil pengujian dengan review atas kinerja yang mereka lakukan.

Dari hasil penelitian ini terdapat korelasi yang kuat antara perasaan bersalah dengan kepemimpinan. Orang yang mudah merasa bersalah cenderung memiliki komitmen yang tinggi untuk memperbaiki diri. Dalam konteks organisasi orang-orang seperti ini mampu menjadi pemimpin yang handal yang dapat mengembangkan organisasi. Perasaan bersalah juga memiliki kaitan yang erat dengan sifat altruisme. Sikap dan rasa sosial yang tinggi lebih dimiliki oleh orang-orang yang mudah bersalah dibandingkan mereka yang memiliki sikap ego yang cenderung mementingkan diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita melihat bahwa orang yang selalu ingin merasa benar dan pintar tak segan-segan melempar kesalahannya kepada orang lain dengan harapan agar harga diri mereka tetap terjaga dengan baik.

Menarik untuk menyimpulkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Francis J. Flynn dengan kejadian yang sedang terjadi di negeri ini. Cukup sulit untuk menemukan petinggi-petinggi di negeri ini yang mudah untuk mengakui kesalahannya. Berbagai kesalahan ditutupi dengan pernyataan-pernyataan yang normatif dan mengaburkan permasalahan. Tuduhan kebohongan publik yang dialamatkan pemuka agama , ditampik oleh pemerintah. Kebohongan diganti dengan istilah kesenjangan antara pernyataan dengan kenyataan. Penggantian istilah ini tidak lain untuk tetap menjaga citra bahwa pemerintah tidak bersalah! Pemerintah ingin tetap menjaga citranya di masyarakat.

Apa yang terjadi di negeri ini mirip seperti kerajaan-kerajaan di jaman dahulu kala. Apa yang dilakukan oleh penguasa semuanya selalu benar. Penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi yang semua perkataan dan tindakannya harus dibenarkan meskipun salah. Berbagai cara dan alasan dipersiapkan untuk membenarkan kesalahan dan kebodohan yang telah dilakukan. Jika memang demikian berarti pemerintahan saat ini adalah pemerintahan yang enggan untuk merasa bersalah. Sulitnya mengakui kesalahan yang terjadi mengakibatkan pemerintah tidak peka dengan apa yang terjadi. Pemerintahan saat ini sudah tuli. Rasa altruism pemerintah telah punah. Berbagai keluhan, kebimbangan dan teriakan masyarakat tentunya tidak akan pernah didengarkan lagi oleh pemerintah. Jadi jangan pernah merasa heran ketika berbagai kesalahan dan kebodohan semakin menjadi-jadi di negeri ini. Karena itu semua adalah hal yang lumrah ketika pemerintahannya tidak pernah merasa bersalah.

21 Januari 2011

http://www.kompasiana.com/arifperdana

Categories: Catatan Lepas
  1. September 27, 2011 at 5:36 pm | #1

    artikel yg bagus pak…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.