
Islam merupakan agama yang tidak hanya mengatur urusan ritual pemeluknya tetapi juga memberikan pedoman bagi pemeluknya untuk menjalankan kehidupan demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Prinsip-prinsip Islam tidak hanya sebatas mengatur hubungan antara manusia dengan penciptanya tetapi juga menusia dengan sesamanya, manusia dengan makhluk hidup lainnya dan manusia dengan lingkungannya. Untuk mencapai kebahagiaan dunia kita harus melaksanakan prinsip-prinsip Islam yang berkaitan dengan duniawi, sedangkan untuk mencapai kebahagiaan akhirat kita harus mengamalkan prinsip-prinsip Islam yang berkaitan dengan ukhrawi. Jika ingin mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat maka kita harus melaksanakan prinsip-prinsip Islam secara menyeluruh.
Dalam urusan keduniawian, Islam memberikan pedoman bagi ummatnya untuk melaksanakan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, kerja keras, sikap profesional, teamwork, dan kepedulian terhadap sesama. Satu ironi yang sering kita lihat mulai dari tataran individu hingga tataran berbangsa dan bernegara yaitu individu ataupun kelompok-kelompok muslim dimana mereka sangat religius, namun sebagian dari mereka kurang mengindahkan prinsip-prinsip keduniawian yang seungguhnya juga merupakan inti dari ajaran Islam itu sendiri. Seluruh ajaran ritual yang ada di dalam Al-Qur’an tidak hanya bersifat individual, tetapi yang lebih penting daripada itu adalah bagaimana seorang muslim dapat mengimplementasikan makna dan filosofi dari setiap ibadah ritual yang mereka lakukan ke dalam kehidupan duniawi. Ajaran Islam hanya dilaksanakan sebatas upacara-upacara ritual saja tetapi tidak membumi dalam kehidupan keduniawian. Masyarakat Islam saat ini lebih asyik menerapkan Islam di atas sajadah dan masjid daripada menerapkan Islam dalam bidang bisnis, bidang kerja dan aktifitas kehidupan keduniawian lainnya. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan masyarakat Islam hanya sibuk bergelut pada masalah perbedaan ritual ibadah daripada sibuk dengan pengembangan sosial ekonomi masyarakat, teknologi, dsb.
>
Masyarakat Islam tertinggal dibandingkan dengan masyarakat lainnnya yang sudah lebih maju di segala bidang. Sesungguhnya keadaan ini tidak perlu terjadi. Pada saat Spanyol menjadi negara adidaya di muka bumi, Islam yang berada di belakangnya. Kala itu masyarakatnya sangat religius dan Islam sangat membumi dalam kehidupan keduniawian. Terbukti prinsip-prinsip islam dalam hal keduniawian berjalan dengan baik sehingga Islam memimpin peradaban dunia.
Di dalam paparan ini, mari kita melihat contoh negara Jepang. Mayoritas penduduk negara ini adalah non muslim tetapi mereka mampu mencapai kejayaan yang luar biasa saat ini. Ketika kita telusuri lebih mendalam apa yang sebenarnya menjadi resep keberhasilan negara ini ternyata kita akan menemukan prinsip-prinsip keislaman disana. Rasa keadilan, sikap jujur, kerja keras, profesional, dan teamwork, akan kita temukan dengan mudah di dalam masyarakat Jepang. Sikap positif orang jepang diantaranya tidak mudah menyerah, tidak takut terhadap cobaan dan kesusahan, menjaga harga diri dan kehormatan bangsa dan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Mari kita telusuri prinsip-prinsip Islam apa saja yang telah diterapkan oleh masyarakat Jepang.
1. Etos Kerja dan Profesionalisme yang Tinggi
Seorang teman saya yang sempat mengenyam pendidikan di jepang pernah berkata bahwa masyarakat jepang itu dalam berbuat dosa dan kejahatan saja profesional apalagi dalam berbuat kebaikan. Yakuza merupakan organisasi kriminal terbesar di Jepang dan masuk dalam jajaran tiga besar organisasi kriminal dunia bersama dengan Mafia di Italia dan Triads di China. Masyarakat Jepang dikenal dengan masyarakat yang “gila kerja”. Sikap ini diwarisi secara turun temurun dan berhubungan erat dengan semangat samurai. Pekerja Jepang dikenal mampu bekerja dalam waktu yang panjang tanpa mengenal bosan, lelah dan putus asa. Meskipun pekrja Jepang bekerja lima hari seminggu, namun catatan jam kerja mereka paling tinggi dibandingkan dengan pekerja Eropa Barat dan Amerika. Pada tahun 1992 jumlah rata-rata jam kerja di jepang mencapai 2.017 jam kerja/tahun. Jumlah ini paling tinggi diantara negara-negara maju dan produktif lainnya. Etos kerja yang tinggi inilah yang membuat Jepang mampu mencapai perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Islam sangat menjunjung tinggi etos kerja. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al Jumuah ayat 10 yaitu :
”Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”
Bahkan hadits Rasulullah pun menyataknnya :
“Sesungguhnya, bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardhu.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
”Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja pada siang hari, maka pada malam harinya ia diampuni Allah.” (HR Ahmad)
Dengan demikian bekerja keras mencari rezeki merupakan kewajiban bagi seorang muslim, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk bermalas-malasan.
Di Jepang, mereka yang pulang yang lebih dahulu dalam bekerja akan mendapatkan pandangan negatif dari masyarakat. Jika Anda bekerja di Jepang sesuai dengan jam kerja normal maka Anda dianggap tidak berniat untuk bekerja. Orang Jepang selalu bekerja melewati batas normal yang ditentukan oleh perusahaan. Begitu tingginya kecintaan masyarakat Jepang terhadap pekerjaan mengakibatkan mereka rela melakukan bunuh diri ketika melakukan kesalahan dalam bekerja dan mati karena bekerja terlalu lama. Sungguh sangat ironis, masyarakat Jepang yang non muslim mengamalkan dengan sempurna Ayat Al-Qur’an dan Hadits di atas ternyata kita sebagai muslim tidak melaksanakannya .
2. Teamwork
Islam sangat menekankan prinsip teamwork atau kebersamaan. Terlebih untuk kepentingan mengajak kita kepada kebaikan, kepentingan menyeru kepada jalan yang lebih baik. Prinsip kebersamaan dalam islam tercakup dalam internal dan eksternal.
Secara internal kebersamaan adalah saling tolong menolong, saling bantu dalam kebaikan. Sesuai yang tecantum di dalam AlQur’an.
… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS .2 :5)
Secara eksternal kebersamaan adalah ruang untuk berlomba dalam kebaikan atau fastabiqul khairat.
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan (QS . 2:148)
Dalam organisasi Jepang, setiap anggota baik tingkat bawah, tengah, maupun atas, memiliki peran dan kepentingan yang sama. Organisasi Jepang tidak menyukai kerja-kerja yang bersifat individu. Keputusan yang diambil selalu dilaksanakan secara musyawarah. Dampak dari tradisi seperti ini adalah hubungan intrapersonal dalam organisasi Jepang menjadi lebih kuat. Masyarakat Jepang mengutamakan kerja-kerja bersama untuk mencapai kebaikan dalam membawa kemakmuran bangsa dan negaranya hingga mampu mengangkat perekonominan Jepang dari yang hancur luluh lantak akibat bom Atom menjadi pemimpin ekonomi di Asia.
3. Disiplin
Di dalam Islam, konsep kedisiplinan diimplementasikan dalam shalat. ”Sesungguhnya shalat bagi orang-orang Mukmin adalah kewajiban yang waktunya ditentukan (terjadwal).” (QS An-Nisaa’: 103). Penentuan waktu shalat ini jelas menunjukkan ajaran kedisiplinan yang berperan penting dalam kesuksesan seseorang.
Ternyata konsep shalat sejak jauh hari telah mengenalkan konsep penjadwalan sebelum kemunculan konsep-konsep manajeman dan self development modern. Kita juga bisa mengambil pelajaran disiplin dari tata cara shalat. Mulai dari bersuci sampai pelaksanaan shalat, dan bahkan setelah shalat.
Konsep tertib dalam aktivitas shalat mengajarkan kedisiplinan dan keteraturan. Seseorang tidak dibenarkan mendahulukan suatu rukun shalat yang seharusnya diakhirkan. Kalau dia tetap melakukannya, jelas shalatnya tidak sah secara syariah.
Masyarakat Jepang terkenal sangat disiplin dengan waktu, mereka tidak pernah terlambat datang ke kantor untuk bekerja meskipun pada malam harinya mereka penuh dengan berbagai aktifitas. Kita juga tidak perlu khawatir ketika menyeberangi jalan-jalan di Jepang. Ini menunjukkan kedisiplinan berlalu lintas yang sangat tinggi. Bagi masyarakat Jepang, disiplin berhubungan erat dengan harga diri. Sikap disiplin ini memberikan manfaat positif dalam membentuk sikap dan semangat bekerja yang kuat, menjadikan orang Jepang sangat patuh kepada organisasi tempat mereka bernaung atau perusahaan tempat mereka bekerja Sehingga mereka akan rela melakukan apa saja untuk kepentingan organisasi/perusahaan mereka.
4. Inovasi
Masyarakat Jepang bukan merupakan bangsa penemu, tetapi mereka sangat inovatif. Mereka mengadopsi produk-produk yang ditemukan oleh bangsa Eropa dan Amerika kemudian mereka lakukan inovasi-inovasi sehingga produk-produk yang dihasilkan lebih efisien dan efektif dalam segala hal dengan biaya produksi yang rendah. Produk-produk Jepang di awal pentrasinya di pasaran dunia dianggap sebagai barang yang bermutu rendah, tetapi dengan kerja keras, keuletan, kreatifitas, inovasi dan continous improvement dari hari ke hari produk jepang kini menjadi produk yang sangat kompetitif di pasaran dunia. Jepang sangat menjunjung tinggi budaya Kaizen yaitu budaya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari (continuous improvement). Bukankah Islam telah mengenal jauh sikap seperti ini semenjak 14 abad yang lalu. Rasulullah mengajarkan bahwa orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi, orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, dan orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka.
Dalam prinsip-prinsip tertentu seperti yang diuraikan di atas, Jepang memang patut dicontoh, tetapi Jepang juga memiliki budaya-budaya negatif, Angka bunuh diri di Jepang yang paling tinggi di dunia, pornografi di Jepang merajalela, konon di Jepang diperkirakan 9 film bertema pornografi diproduksi setiap harinya. Terlepas dari sisi negatif yang mereka miliki, kita harus menghargai keuletan mereka dalam membentuk budaya-budaya positif yang sesungguhnya berlandaskan pada prinsip-prinsip yang Islami, meskipun masyarakat mereka banyak yang belum mengenal Islam.
Dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara kita bisa melihat beberapa negara dimana penduduknya mayoritas non muslim tetapi mereka sangat maju. Saya cukup sepakat dengan salah satu tokoh pembaharuan Islam berkebangsaan Mesir, Muhammad Abduh yang ketika berkunjung ke Eropa menyatakan di Negara non Muslim ada Islam tanpa orang Islam, sedang di Mesir banyak orang Islam tapi tanpa Islam.
Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa ada orang-orang yang hanya berdoa untuk kebahagiaan dunia. Golongan orang-orang seperti ini akan mencapai kejayaan di dunia tetapi di akhirat kelak mereka tidak akan lagi mendapatkan bagian yang menyenangkan. Di dalam Al Quran juga ada ayat yang menyatakan bahwa kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat haruslah dicapai. Dalam ayat ini, kebahagiaan dunia didahulukan dari kebahagiaan akhirat, artinya dunia adalah ladang amal dan tangga bagi kita untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.
Prinsip-prinsip Islam yang harus diterapkan dalam mencapai kebahagiaan duniawi antara lain keadilan, kejujuran, kerja keras, sikap profesional, teamwork, dan kepedulian terhadap sesama. Prinsip-prinsip seperti ini akan banyak sekali kita jumpai di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan Allah SWT pada zaman peradaban jahilliyah dan bukan dari hasil pemikiran empiris manusia atas aktifitas masyarakat pada masa tersebut. Atas dasar pemikiran inilah sangat layak ketika kita menyatakan bahwa prinsip-prinsip untuk mencapai kebahagiaan duniawi merupakan prinsip-prinsip yang digariskan oleh Islam.
Daftar Pustaka :
Rahasia Bisnis orang Jepang oleh Ann Wann Seng
10 Resep Sukses bangsa Jepang oleh Romi Satria Wahono
Filed under: Islamic World, Journey to The Truth, Motivational & Inspirational








saya banyak sekali belajar dan mengadopsi budaya positif dan semngat Jepang. saya bahkan terobsesi untuk suatu hari belajar ke jepang dan pulang ke Indonesia dengan segudang perubahan bagi bangsa tercinta.
well,, nice though!
saia jugapengagum berat jepang. walopun dibilangin mental orang jajahan saia gak peduli. toh emang kenyataannya orang jepang tuh kalo soal bekerja gak ada duanya. masih inget dulu belajar sejarah di smp,, kerugian rakyat indonesia akibat penjajahan orang jepang selama tiga setengah tahun bercokol sangat berimbang dengan penderitaan kita selama tiga setengah abad dibawah belanda… diluar konteks nenek moyang kitalah objeknya,, tetep aja mereka luar biasa. saia juga bisa dibilang terobsesi dengan negara ini.. walopun kecintaan saia ini cuman bermula dari komik manga, bukan latar belakang sejarah,, tapi saia ngerasa udah cukup banget ngedapetin esensi kehidupan mereka tuh seperti apa…. jadi pengen mencoba seperti apa kehidupan disana sekalian mengkur seberapa tahan bantingnya saia menghadapi beratnya tekanan hidup disana.. hehehe….
hope the dreams come true!
Saya 5,5 tahun tinggal di Jepang. Dalam kurun waktu tersebut, sy masih kekurangan waktu untuk tinggal di sana. Banyak hal kebaikan kemasyarakatan Jepang yg masih ingin dipelajari, dipahami, untuk kemudian diamalkan. Bagi saya kebaikan yang telah saya dapatkan tersebut insya allah akan saya aplikasikan dalam kehidupan saya. Sampai sekarang (setelah 3 tahun meninggalkan Jepang) saya selalu merindukan kehidupan Jepang. Bila membandingkan dgn negara sendiri, rasanya jauh sekali perbedaan tersebut. Tidak hanya dari segi ekonomi, tapi juga hubungan kemasyarakatan, pendidikan, pemerintahan, dan bidang-bidang lainnya. Saya hanya berharap kapan Indonesia akan seperti Jepang. Justru sekarang saya merasakan bahwa teman-teman Jepang itu seperti saudara. Penuh ketulusan, penuh perhatian, tanpa pamrih, dan penuh kebaikan.