Belajar Dari Kesuksesan Matsushita

matsushita
Anda tentu mengenal perusahan Matshushita Electric Industrial Company Ltd. Di Indonesia, produk-produknya cukup dikenal luas, mulai dari peralatan elektronik rumah tangga hingga baterai. Perusahaan ini di tahun 2005 memiliki pendapatan sebesar 74,5 milliar dollar. Perusahaan ini pun telah memiliki beberapa divisi dan produk antara lain, Panasonic, National (komponen elektronik rumah tanggaa, microchips, automotive, dsb), Quasar (broadcasting, perlengkapan audio video),Technics (perlengkapan audio), Ramsa (perlengkapan audio), Rasonic (peralatan elektronik rumah tangga khusus pasar China). 11 tahun lagi perusahaan ini akan merayakan usianya yang telah mencapai satu abad. Meskipun pendiri perusahaan ini, Konosuke Matsushita telah meninggal, namun perusahaannya semakin tumbuh dan berkembang pesat. Begitu banyak tantangan dan hambatan yang dialami oleh Matsushita dalam membawa perusahaannya hingga menjadi perusahaan yang disegani saat ini.

Konosuke Matsushita lahir pada tanggal 27 November 1894, anak lelaki ketiga dan yang termuda dari delapan bersaudara keluarga Masakuso, seorang petani penghasil padi dan isterinya Tokuwe, di pedesaan provinsi Wakayama, sebuah daerah sebelah Tenggara Osaka. Ayahnya seorang anggota dewan perwakilan setempat dan untuk sementara waktu pernah bekerja di berbagai kantor pemerintah desa.


Matsushita sebenarnya dibesarkan di dalam keluarga yang cukup berada, namun spekulasi yang dilakukan oleh ayahnya membuat keluarganya harus menghadapi malapetaka. Dalam usia 9 tahun Konosuke meninggalkan Sekolah Dasar, dan dengan sendirian pergi mencari penghidupan di Osaka. Disana dia menjadi seorang peserta latihan calon pegawai pada sebuah toko pengolah arang. Tahun 1905 dia pindah ketempat penjualan obral sepeda, dan berhasil menamatkan latihan kerja selama 6 tahun. Pada masa itu nasib seorang calon pegawai jauh daripada mudah. Sering kali mereka selama 6 tahun demikian menderita sehingga Konosuke pernah berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya. Tetapi oleh karena ingat kepada impian-impian ayahnya untuk mengembalikan kejayaan keluarga, dia tetap terus bekerja di toko sepeda. Dalam tahun 1906, sebelum impian mereka menjadi kenyataan, Masakuso meninggal setelah lama menderita sakit. Dalam tahun-tahun sesudah kemenangan Jepang dalam perang melawan Rusia tahun 1905, Konosuke ikut menyaksikan perubahan dra matik yang terjadi kota Osaka. Lampu-lampu listrik jalanan mulai menggantikan lampu-lampu lama gas dan minyak. Gedung-gedung bergaya barat muncul di sana sini sepanjang jalan dan kereta-kereta yang digerakkan oleh tenaga listrik dijejali orang-orang yang bergelayutan sepanjang jalan-jalan utama.

Perubahan ini menyebabkan Matsushita muda menjadi sangat tertarik dengan dunia listrik. Ia pun kemudian bekerja pada sebuah perusahaan listrik Osaka Electric Light Company. Kecerdasan dan kegigihannya dalam bekerja membuat Matsushita cepat tumbuh maju dan berkembang serta memberikan inovasi-inovasi baru dalam bidang listrik. Namun yang membuatnya kecewa adalah ketika hasil temuannya tentang socket listrik ditolak oleh perusahaan tempatnya bekerja. Akhirnya Ia kemudian memutuskan untuk memulai usahanya sendiri di tahun 1917, dan pada tanggal 7 Maret 1918 Matsushita Electric Appliance Factory secara resmi dibuka. Perusahaan ini pun kemudian memproduksi plat-plat insulasi untuk kipas-kipas angin listrik dan juga memulai mengerjakan colokan adaptor untuk penggunaan rumah tangga. Analisanya yang tajam mengenai kebutuhan pasar di tahun 20-an membuatnya tertarik untuk memproduksi lampu sepeda berbaterai. Di tahun-tahun berikutnya perusahaan Matsushita semakin berkembang dengan mulai memasuki bidang peralatan kabel-kabel, lampu-lampu sepeda, alat-alat pemanas listrik, radio, batu baterai kering dan sebagainya. Penemuan dan Analisanya yang tajam ini diimbangi pula oleh bakatnya berwiraswasta. Umpanya, dalam tahun-tahun yang sulit setelah perang dunia pertama ketika kredit diperketat dan banyak perusahaan menderita kerugian, Konosuke Matsushita memutuskan untuk membangun sebuah pabrik baru. Langkah yang berani ini memberikan motivasi dan ilham kepada karyawannya yang kemudian menghasilkan suatu pertumbuhan produksi yang tidak diduga.

Matsushita memiliki falsafah usaha yang sungguh mengesankan. Beliau mengatakan ”Misi yang dipikul produsen adalah bagaimana mengatasi kemelaratan, bagaimana membebaskan masyarakat secara keseluruhan dari penderitaan, kemiskinan dan memberikan kepada masyarakat itu kemakmuran. Dunia usaha dan produksi tidak dimaksudkan hanya sekedar untuk memberi kekayaan kepada toko-toko atau kepada pabrik-pabrik milik perusahaan itu saja, tetapi juga membantu seluruh masyarakat. Masyarakat membutuhkan dinamisme dan vitalitas dunia usaha dan dunia industri untuk menunjang kemakmurannya. Hanya dengan persyaratan itulah berbagai usaha dan pabrik akan betul-betul bisa tumbuh.”

Misi sesungguhnya yang dipikul Matsushita Electric tidak lain daripada memproduksi kebutuhan akan barang-barang secara terus menerus dan dengan demikian menciptakan kedamaian serta k emakmuran bagi seluruh negara. Matsushita tidak bermaksud hanya sekedar mengumumkan misi itu, dia juga menyatakn dua setengah abad mendatang ini akan merupakan masa pelaksanaan misi, dan dia membagi 250 tahun itu ke dalam 10 fase, yang setiap fasenya terdiri dari 25 tahun. Dia menyebutkan 10 tahun pertama dari tiap fase itu sebagai masa pembangunan, dasa warsa kedua sebagai masa penerapan dan 5 tahun terakhir sebagai masa p enyempurnaan. Dia juga mengingatkan kembali kepada karyawannya bahwa fase 25 tahun pertama ini kebetulan bersamaan pula de ngan masa karier mereka. Diapun menyatakan bahwa tanggal 5 Mei 1932 selanjutnya akan dirayakan sebagai hari yang sangat bersejarah bagi Matsushita Electric karena saat ini merupakan awal dari misi perusahaannya dalam mengabdi masyarakat. Oleh karena itu, walaupun perusahaan sesungguhnya didirikan pada tanggal 7 Maret 1918, setiap tahun mereka merayakan ulang tahun pendirian perusahaan pada tanggal 5 Mei. Sejak tanggal 5 Mei 1984 perusahaan memasuki fase ketiga dalam langkahnya menuju penyempurnaan misi kolektif.
Sejak tahun 1932 perusahaan mencapai kedewasaan yang mengesankan. Konosuke Matsushita telah berusaha mengukuhkan rasa kebersamaan dalam memikul misi dikalangan stafnya, dan menjadikan sikap demikian itu suatu unsur kreatif dan permanen di dalam riwayat perjuangan perusahaan. Menyakini bahwa kepemimpinan yang kuat setiap saat diperlukan dan dalam usaha menanamkan prinsip-prinsip yang akan menuntun kegiatan sehari-hari serta memberikan dorongan kepada setiap orang di perusahaan itu, dia menciptakan dalam bulan Juli tahun 1933, prinsip di bawah ini :

(1) Semangat pengabdian melalui perusahaan
(2) Semangat bersikap adil
(3) Semangat keselarasan dan kerja sama
(4) Semangat berjuang untuk kemajuan
(5) Semangat kesatria dan kerendahan hati
(6) Semangat persesuaian dengan alam
(7) Semangat bersyukur.

Pemikiran Konosuke sebagai seorang usahawan berkembang dalam bentuk prinsip-prinsip dan pendekatan-pendekatan baru dan konkrit. Dalam tahun 1933, dia membagi perusahaannya menjadi 3 divisi dan setiap divisi mendapatkan kekuasaan mengambil keputusan secara otonom. Divisi pertama bertanggung jawab untuk radio, divisi kedua untuk alat-alat penerangan dan baterai, dan divisi ketiga untuk alat-alat kabel, perangkat sintesis dan alat pemanas listrik. Para kepala divisi diberikan kekuasaan untuk melaksanakan menajemen dari setiap sektor masing-masing. Ini disebut Matsushita sebagai manajemen otonom yang memberikan suatu kerangka kerja penerus tradisi manajemen Matsushita Electric yang mewariskan prinsip-prinsip itu kepada generas i-generasi manajer yang lebih muda.

Perang dunia kedua melemparkan Jepang ke dalam suatu zaman penuh kesimpang siuran dan kekacauan, dan menghadapkan Matsushita Electric pada dilema yang sangat sukar yang belum pernah dialami sebelumnya. Setelah menyerahnya Jepang, Konosuke Matsushita mengumpulkan semua staf eksekutifnya dan mengumumkan rencana-rencananya bagi kebangunan kembali perusahaannya. Dia menyatakan produksi akan memberikan dasar bagi rehabilitasi nasional dan sekarang ini mereka harus mengadikan diri mereka sebaik mungkin kepada pembangunan kembali negeri mereka. Dia menyerukan kepada semua pegawai untuk mengabdikan diri kepada permulaan yang baru dan mengerahkan semua sumber yang mereka punyai untuk menghadapi tugas di hadapan mereka.

Namun Markas Besar Tentara Pendudukan Sekutu mulai memereteli kumpulan perusahaan industri besar Jepang sejak masa sebelum perang. Sebagaimana halnya dengan perusahaan-perusahaan Jepang besar lainnya, Matsushita Electric juga termasuk di antara yang pertama-tama menjadi sasaran kebijaksanaan baru ini, tetapi karena tidak merupakan suatu zaibatsu, kemudian dikecualikan. Semua direktur perusahaan di bawah Matsushita diamankan. Kekayaan perusahaan sementara dibekukan dan berbagai persoalan mulai bermunculan. Tetapi dengan usaha bersama dari para karyawan, perusahaan itu berhasil mengatasi kemunduran-kemunduran yang dialaminya dan membangun kembali dirinya.

Dalam waktu lebih dari 22 tahun sejak saat itu, perusahaan kembali mencapai kedewasaan menuju suatu kelompok perusahaan, salah satu kelompok dengan angka penjualan bruto terbesar di Jepang dan menempati tempat ke 39 dalam urutan perusahaan terbesar di dunia, sebagaimana diberitakan oleh majalah Fortune dalam edisi Agustus 1983. Dalam perjuangannya untuk membangun kembali usahanya dari keruntuhan yang diakibatkan perang, Konosuke Matsushita melihat sekelilingnya pada kekacauan yang telah menimpa masyarakat Jepang. Dia mulai mempelajari bagaimana umat manusia dapat melepaskan diri dari keperihan dan pend eritaan, serta mencapai kebahagiaan. Dia lalu merintis usaha ke arah suatu masyarakat yang damai dan penuh keselarasan. Pada tanggal 3 November 1946 dia mendirikan lembaga PHP yaitu singkatan dari perkataan Peace and Happiness Through Prosperity, kedamaian dan kebahagiaan melalui kemakmuran. Tujuannya adalah untuk mencapai suatu masyarakat damai penuh dengan kekayaan materi dan spiritual.

Dikutip dari : BUKAN DEMI PERUT SEMATA
Sebuah Etos Dunia Usaha, Suatu Etika Dibidang Manajemen, oleh Konosuke Matsushita
Mei 1984

Leave a Reply